Muhammad Sabil Diberhentikan Jadi Guru Gara-Gara 'Maneh' Kini Dilirik Dedi Mulyadi untuk Jadi Fotografer

- Sabtu, 18 Maret 2023 | 18:36 WIB
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi bertemu dengan Muhammad Sabil guru yang viral gara-gara kata 'maneh' (Instagram @dedimulyadi71)
Anggota DPR RI Dedi Mulyadi bertemu dengan Muhammad Sabil guru yang viral gara-gara kata 'maneh' (Instagram @dedimulyadi71)
 
LENSA PURWAKARTA - Muhammad Sabil Fadhillah, belum lama ini viral di media sosial. Guru Honorer ini terkenal gara-gara komentar dengan kata 'maneh'. Dampak dari komentarnya itu, Sabil dipecat dan kehilangan pekerjaannya.
 
Muhammad Sabil Fadhillah, yang asal dari Cirebon, belum lama ini bertemu dengan Anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Dalam pertemuan itu Sabil mengaku bahwa sebutan ‘maneh’ dalam komentarnya adalah sebuah panggilan akrab. 
 
"Saya menilai orang yang dikomentari adalah sosok yang friendly," ujarnya.
 
Bahkan, lanjut Sabil, dirinya beberapa kali juga pernah ketemu dengan beliau. Sabil memandang beliau sosok yang akrab, lebih ke friendly.
 
 
Ia tak menyangka komentar kritikan tersebut akan viral hingga komentarnya sampai ditandai. Sebab ia mengaku sudah sering berkomentar tapi baru kali ini menjadi viral hingga akhirnya ia berhenti dari pekerjaannya.
 
Pihak sekolah tempat Sabil mengajar sebetulnya telah memberikan kesempatan kedua untuk ia kembali mengabdi. Namun Sabil memilih untuk berhenti dan mengundurkan diri sebagai guru SMK di Cirebon.
 
Sementara itu, Kang Dedi Mulyadi menjelaskan, awalnya Sunda yang berpatokan pada Pajajaran tidak mengenal istilah undak usuk dalam berbahasa.
 
"Stratifikasi di Sunda itu saamparan, sajajaran, tidak ada tingkatan manusia, semua sama. Orang Sunda itu hidup dalam kesetaraan," ujar Kang Dedi.
 
Berjalannya waktu masuklah era Sunda priangan yang mendapat pengaruh stratifikasi manusia seperti menak atau anak ningrat. Hingga muncul sebutan atau bahasa untuk diucapkan kepada yang lebih tua, lebih muda, sebaya, kepada pimpinan dan sebagainya.
 
Tetapi, kata Dedi, dalam pandangannya pengucapan bahasa tergantung dari hati personal. Jadi kalau bahasanya halus tapi hatinya benci ya tetap saja nyelekit. Namun, kalau bahasanya dianggap kasar tapi akrab ya itu lebih ke candaan.
 
Menurut Kang Dedi, kata maneh atau dalam Bahasa Indonesia berarti kamu bisa diartikan sebagai panggilan akrab dan penuh cinta. Bahkan sebelum mengenal kata sayang seperti sekarang, orang tua zaman dulu menggunakan ‘maneh’ untuk panggilan sayang pada pasangannya.
 
 
"Makanya dulu ada penulis lagu Sunda judulnya ‘potret manehna’ ciptaan Nano S itu terkenal tahun 87-an. Mungkin bagi orang yang tidak tahu latar belakang seperti ini, orang priangan, bisa jadi kalimat itu tidak sopan," ujar Kang Dedi.
 
Pengalaman Kang Dedi sebagai bupati pernah dianggap tidak etis secara birokrasi sebab ia lebih memilih disebut ‘akang’ dibanding ‘bapak’. 
 
"Waktu itu diprotes dianggap tidak mengerti etika birokrasi, ke sini-sini begitu sebutan akang laku , kakek-kakek mau nyalon (jadi pejabat) maunya disebut akang," ujarnya.
 
Di sela-sela obrolan Kang Dedi menanyakan kegiatan Sabil pasca viral. Sabil mengaku saat ini menganggur dan sedang mencari kerja.
 
"Sekarang mah job seeker, masih cari kerja. Barang kali mau dijadikan Fotografer atau kameramen akang (Kang Dedi) boleh, itu juga kalau ditawarin," ujar Sabil.
 
Kang Dedi menanggapi, serius nih? Timnya juga lagi kurang Fotografer Bener gak nih? Kalau bener salaman.
 
"Deal," ucap keduanya saat berjabat tangan.
 
Di akhir obrolan, Kang Dedi berharap semua orang bisa menghadapi segala sesuatu secara rileks dan tak perlu tegang. Ia pun mengkritik Sabil sebagai seorang insan pengajar harus peka saat melontarkan kritik jangan sampai menimbulkan multitafsir.
 
Kang Dedi mengkritik Sabil, dia lupa bahwa dia seorang guru yang ketika masuk ke media sosial akan menimbulkan multitafsir. Karena kulturnya bukan hanya pantura melainkan di media sosial. 
 
"Kita juga harus menghormati kultur, mengkritik boleh tapi pilih diksi bahasa yang tidak menimbulkan kontroversi dan ketersinggungan," pungkas Kang Dedi Mulyadi. ***

Editor: Ita Nina Winarsih

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X